Harian Surya -Sinyal bahwa stok beras Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jatim menipis, terbukti. Ini setelah Gubernur Jatim Imam Utomo akhirnya memutuskan memberi izin penggunaan beras impor guna menutupi kekurangan kebutuhan beras yang diperuntukkan bagi rakyat miskin (raskin), akhir pekan lalu.

Arwakhudin Widiarso, Kahumas Perum Bulog Divre Jatim mengatakan, keputusan gubernur itu baru diketahui Jumat (16/3) sore. Sehingga, sampai saat ini belum ada sosialisasi ke seluruh subdivre. “Dalam keputusannya, Gubernur menyarankan agar beras lokal yang ada di Bulog digunakan untuk operasi pasar (OP). Sedangkan beras impor untuk program raskin,” jelas Widiarso, Senin (19/3).

Saat ini, katanya, kekurangan beras untuk pengadaan raskin di Jatim mencapai 22.000 ton. Diakui, stok beras Bulog sekarang memang minim. Stok beras lokal di Bulog Jatim tersisa 17.000 ton. Semua beras itu akan diperuntukkan untuk OP. “Dengan keluarnya izin gubernur, Bulog Jatim akan menggunakan 34.000 ton beras impor untuk program raskin,” ujarnya. Jumlah itu sesuai kebutuhan beras raskin yang belum terpenuhi untuk Maret dan alokasi untuk April.

Sejauh ini total beras impor dari Vietnam yang masuk ke gudang Bulog di Buduran Sidoarjo sebanyak 62.000 ton, dan sebenarnya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan beras warga Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tengah, dan Papua.

Keputusan gubernur memberi izin penggunaan beras impor mendapat reaksi keras DPRD Jatim. Pasalnya, keputusan pemakaian beras impor untuk apapun di Jatim menunjukkan tidak adanya perlindungan kepada petani yang saat ini mulai panen. “Ini betul-betul kami sesalkan. Kami tak habis pikir dengan keputusan gubernur yang memperbolehkan masuknya beras impor, walaupun untuk menjaga kelangsungan program raskin setelah stok Bulog menipis,” kata Sjamsul Huda, anggota Komisi B DPRD Jatim, Senin.

Dikatakan, keputusan pemakaian beras impor itu telah memukul harga gabah petani yang mulai panen saat ini. “Saya mendapat informasi dari berbagai daerah, dampak keluarnya keputusan gubernur telah menyebabkan jatuhnya harga gabah hasil petani. Kini petani terancam rugi karena rendahnya harga jual gabah,” tukasnya.

Karena itu, Sjamsul menegaskan akan meminta keterangan Bulog Jatim soal stok beras yang dimilikinya, terutama yang digunakan untuk program raskin. Demikian juga soal OP beras, apakah telah dihentikan atau tetap dilanjutkan hingga akhir Maret.

Sementara itu harga beras di Surabaya mengalami penurunan. Rata-rata harga beras jenis IR64 kualitas terendah mencapai Rp 4.600/kg. Sebelumnya harga beras jenis ini harganya Rp 4.800/kg. “Penurunan harga terjadi sejak pekan lalu. Itu karena semakin banyaknya beras petani hasil panen yang baru saja terjadi,” kata Ny Dewi, pedagang beras di Bendul Merisi Surabaya.

Prediksi Ny Dewi, harga beras akan semakin turun seiring semakin banyaknya panen yang dilakukan petani di Jatim. “Bahkan bisa dipastikan harga beras akan terus turun hingga mencapai Rp 4.000 per kilogram,” ucap Ny Dewi. (*)