Harian Surya -Lebih dari separo pabrik mebel berbahan baku rotan di Jatim gulung tikar, sebagai dampak minimnya ketersediaan bahan baku. Dari catatan Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan di Indonesia (Asmindo), saat ini hanya tersisa 74 pabrik dari 213 pabrik yang terdaftar pada 2000 lalu.

“Setidaknya ada 139 pabrik yang tutup dalam kurun waktu enam tahun saja. Penutupan terbesar terjadi pada tahun 2004 yaitu sebanyak 63 pabrik,” kata Hartono, Ketua Bidang Bahan Baku DPP Asmindo, usai memberikan keterangan ke Polda Jatim terkait 16 kontainer ekspor rotan ilegal di Terminal Peti Kemas Tanjung Perak Surabaya, Kamis (29/3).

Penyebab utamanya, menurut Hartono, diantaranya kesulitan memperoleh bahan baku, biaya operasional mahal hingga sulitnya menjual hasil produksi. “Bahkan, yang sekarang ini industri mebel rotan kita kalah bersaing dengan Tiongkok. Dampaknya, order dari Uni Eropa dan Amerika langsung turun,” jelasnya, didampingi Chilman Suaidi, Executive Secretary DPD Asmindo Jatim.

Namun demikian, lanjut Hartono, ternyata gulung tikar pabrik mebel ini tidak diikuti menurunnya nilai ekspor mebel. Tahun 2006, nilai ekspor secara nasional mencapai 322 juta dolar AS di mana Jatim menyumbang sekitar 40 persen. “Terbongkarnya praktek pemalsuan dokumen ekspor 16 kontainer produk mebel yang ternyata berisi rotan mentah di Tanjung Perak Surabaya baru-baru ini, membuktikan bahwa memang terjadi kecurangan ekpor,” papar Hartono.

Sjamsul Huda, anggota Komisi B DPRD Jatim Bidang Perekonomian mengaku prihatin dengan perkembangan industri mebel rotan di Jatim. Pasalnya, industri ini menjadi salah satu andalan ekspor Jatim. “Karena itu kami mendesak aparat mengusut praktek ilegal itu. Bukan hanya pada pelaku ekspor ilegal, tapi juga oknum Bea Cukai karena lalai atau sengaja meloloskan barang ekspor ilegal itu,” tutur Sjamsul.

Jumlah pabrik mebel rotan di Jatim, berdasarkan data DPP AsmindoTahun 2000 jumlahnya 213, 2004 (150), 2005 (124), 2006 (108), 2007 (Sampai Rebruari) tercatat 74. (*)