Bangkitnya Industri Persepatuan

Opini -Sepatu buatan Indonesia? Ah. Persoalan ini tidak akan habis diurai diberbagai forum legislasi di dewan. Kondisi industri alas kaki anak negeri khususnya di Jawa Timur memprihatinkan dan merana. Mereka banyak yang angkat kaki dan berganti profesi lantaran negara tak memproteksinya atas gelombang serbuan dahsyat produk sama asal Tiongkok

Siapa yang tak kenal Wedoro, Kecamatan Waru, Sidoarjo? Nama desa kecil ini menyeruak ke permukaan pasar persepatuan di Asia Tenggara sebelum Indonesia dihantam badai krisis luar biasa yang tak berkesudahan. Sentra industri alas kaki ini tidak sekadar memasok kebutuhan pasar sepatu dan sandal di pasar lokal, melainkan juga melanglang buana ke pasar-pasar internasional. Tidak kecuali di Jepang.

Kini, nama Wedoro masih tetap dikenal dan dikenang. Tidak banyak produk dan merk sepatu yang dipajang merupakan hasil karya tangan-tangan terampil masyarakat Wedoro dan desa-desa di sekitarnya. Produk Tiongkok sudah masuk ke etalase penjualan industri alas kaki Wedoro. Kedatangannya yang tak diundang tidak dapat ditolak.

Yang paling menyakitkan, sepatu dan sandal buatan Tiongkok ini menghempaskannya. Menu alas kaki yang disuguhkan negeri Tirai Bambu ini benar-benar menyerap pasar. Produknya bukan hanya disukai masyarakat kelas menengah ke bawah, melainkan juga dinikmati kalangan atas. Sebab, harganya demikian murah.. Sebagian besar pengrajin angkat kaki dan pindah profesi karena tidak kuat menghadapi dumping ini.

Kondisi memprihatinkan itu bukan hanya terjadi di Wedoro, melainkan juga sentra-sentra sepatu sandal di Mojokerto, Malang dan Magetan. Mengharapkan industriawan sepatu untuk menghadapi ketangguhan Tiongkok adalah sesuatu yang mustahil. Sebab, kebanyakan dari mereka adalah “penjahit”.

Di samping itu, pemerintah tak kunjung berani melindungi industri alas kaki dalam negeri, terutama yang digerakkan oleh masyarakat kelas menengah bawah. Apalagi di daerah. Sebagai anggota legislatif, saya merasakan gaung proteksi sama sekali tak bersuara. Jika saja pemerintah mau dan cekatan, industri alas kaki merupakan salah satu kelompok industri yang nyata-nyata mampu dan bisa menggerakkan lini-lini sektor riil.

Menebar Angin

Saya tak bisa lagi menyembunyikan rasa prihatin, geram dan kecewa ketika mendapati luas ukuran stand Indonesia di pameran sepatu internasional di Dusseldorf, Jerman, awal bulan lalu. Rasa kebangsaan demikian terusik ketika melirik stand-stand negera lain, baik yang sekelas dengan Indonesia atau malah di bawahnya. Ukuran stand mereka lebih luas ketimbang milik Indonesia yang hanya 200 meter persegi.

Indonesia demikian kecil di mata internasional. Negara besar ini tidak ada apa-apanya dibanding India atau negara-negara berkembang lainnya yang mengikuti pameran tersebut. Logis kalau iklim persepatuan di dalam negeri carut marut.

“Ini masih mendingan pak. Tahun lalu, ukurannya cuma 80 meter persegi,” ujar salah seorang staff dari event organizer yang dibenarkan pejabat dari kantor Perindustrian dan Perdagangan. Sejumlah pengusaha sepatu Indonesia dari Jawa Timur ikut mengamini pernyataan yang tampaknya untuk menghibur. Lagi pula, tambahnya, Indonesia baru ambil bagian sejak tahun lalu dalam dalam pameran Global Dusseldorf Shoes (GDS) yang kesohor ini setelah terpuruk di arena persepatuan dunia selama delapan tahun. “Walau pun standnya kecil, yang penting tampilannya. Di negera lain, meski ukuran stan luas, yang ditampilkan hanya satu merk. Sedangkan kita banyak merk.

Pengikutnya saja 16 perusahaan, sehingga banyak pilihan bagi buyers,” kata dia untuk menghibur yang kesekian kalinya. Pikiran saya, ini gila. Langkah berani ini seperti menebar angin, bagaimana menuai badainya.

Saya sudah menduga bahwa stand Indonesia sepi pengunjung. Itulah kenyataannya di hari-hari pertama pameran. Tapi, dugaan itu meleset di esok harinya. Entah apa yang terjadi, mendadak stand Indonesia dikunjungi banyak orang. Padahal produk alas kaki yang dipamerkan mirip dengan produksi Wedoro. Apalagi untuk sepatu perempuan. Desain dan kualitas tak jauh berbeda.

Mendadak rasa geram dan sesal saya menghilang mendapati kenyataan yang mengharukan itu. Sebab, pertama, mereka tidak sekadar berkunjung, melainkan juga transaksi. Di antara investor asing itu, adalah pemain lama yang dulu relokasi karena biaya ekonomi dan ongkos sosial politik yang tinggi. Kondisi ini akan melengkapi mulai bangkitnya persepatuan di Jawa Timur yang menurut data aktual saat ini di Jawa Timur sudah masuk 14 investor sepatu.

Kedua, semangat antiproduk Tiongkok yang digelorakan negera-negara anggota WTO. Mereka diperbolehkan menggunakan dua instrumen, safeguard dan anti-dumping. Aroma ini demikian menyengat di GDS. Ini merupakan buah protes keras terhadap Tiongkok yang mempraktikkan dumping (harga di bawah standar pasar) terhadap produk industrinya, tidak terkecuali produk-produk alas kaki. Bahkan Australia dan negera-negara yang tergabung dalam Uni Eropa sudah melayangkan sikapnya, yakni akan meninjau ulang hubungan perdagangannya dengan Tiongkok pada tahun 2010.

Barangkali ini yang dimaksud menebar angin untu menuai (badai) investasi di GDS. Ini pula momentum paling tepat bagi bangkitnya industri persepatuan nasional khususnya di Jawa Timur yang jumlahnya mencapai 82 perusahaan. Jumlah ini belum termasuk usaha-usaha mandiri. Kini, bola ada di penyelenggara negara dan pelaksana pemerintahan. Beranikah kita melindungi kepentingan dalam negeri? Sejauh mana proteksi yang akan dilakukan?

Bagaimana pula efektivitasnya? Para pelaku usaha persepatuan, khususnya UKM, tidak akan berkutik melawan per-dumping-an jika keberadaannya tidak terlindungi oleh negara. Kita tidak ingin record buruk neraca perdagangan persepatuan nasional seperti yang sudah berlangsung delapan tahun terakhir. Sebagai gambaran, volume ekspor sepatu asal Jatim tahun 2005 mencapai 10.502,10 ton dengan nilai 168,61 juta .dolar AS. Sedangkan impor sepatu asal Tiongkok ke Jawa Timur yang tercatat pada tahun 2005 mencapai 3.924,43 ton dengan nilai 7,25 juta dolar AS.

Kapasitas produksi sepatu nasional untuk pasar dunia masih empat juta pasang per tahun. Melalui momentum kebangkitan ini, Jawa Timur bisa menggenapinya menjadi lima juta pasang per tahun. Apalagi sepatu buatan Indonesia yang dipamerkan di Dusseldorf bukan hanya mulai membanjirnya pujian, melainkan juga pulihnya image persepatuan nasional di pentas dunia.

Begitu pula di pasar dalam negeri. Dengan asumsi satu orang membutuhkan dua pasang sepatu per tahun, maka pasar sepatu di Nusantara sungguh menggiurkan. Karena itu pula, Pemerintah Provinsi Jawa Timur membangun pusat perkulakan sepatu di Mojokerto. Pemerintah provinsi juga memberikan bantuan sejumlah peralatan produksi, sehingga, produk alas kaki UKM ke depan lebih berani, tatag dan siap menghadapi Tiongkok yang telah merebut pangsa pasarnya di pasar-pasar tradisional.
<p align=”justify“>[Opini ini dimuat di Surya, 13 November 2007]