Jatim.Info -Partai Amanat Nasional (PAN) Surabaya bertekad melanjutkan program jual sembako murah melalui toko keliling (Koling) hingga kondisi harga sembako ‘normal’ dan terjangkau oleh daya beli masyarakat pada umumnya. Demikian Ketua Pelaksana Teknis DPD PAN Surabaya menjelaskan tentang program Koling Sembako, yang digelar mulai Januari dan direncanakan berakhir hingga Maret 2008.

Program ini bertolak dari keprihatinan PAN terhadap gejolak harga sembako yang sudah kelewatan. Harga bahan baku kedelai, misalnya, melonjak drastis dari Rp6.000,- menjadi Rp.8.000,-/kg, membuat pengrajin tempe kelimpungan, bahkan ada yang terpaksa menganggur, menghentikan proses produksi pembuatan tahu tempe.

Tekanan lain datang dari kacaunya pelaksanaan konversi dari minyak tanah ke gas elpiji. Sistim distribusi amburadul. Antrian panjang pembeli minyak tanah serta banyaknya keluhan masyarakat kelas paling bawah, tak dapat dihindari. Kondisi ini pun masih diwarnai lagi gejolak harga minyak goreng, yang terus berlangsung hingga sekarang.

Berkaitan dengan situasi yang memprihatinkan tersebut, DPD PAN Surabaya menjalankan program Toko Keliling (Koling) PAN menjual Sembako murah, yang dimulai di perempatan jalan Jemur Gayungan Surabaya (25/1).

LUDES
Dengan sebuah mobil box, Koling PAN dibuka mulai pukul 6.20. Tak lebih dari dua jam sembako yang disediakan ludes terjual. Hari pertama itu panitia menyediakan lima kuintal gula, satu setengah ton beras, 400 liter minyak goreng, 300 kilo telur, 100 dos mie instan, kacang hijau, sabun, sampo, kecap dan lain sebagainya. “Harga gula selisih Rp 500 dari harga di pasar yang mencapai Rp 6.000,-/kg.” Kata seorang pembeli yang tinggal di kawasan Gayungan.

Hal yang sama juga terjadi di kawasan Ngagel Dadi Surabaya, Sabtu (9/2). Demikian pula kegiatan Koling lain di hampir separoh kecamatan di Surabaya. Mulai dari Gayungan, Wonokromo, Kenjeran, Bulak, Tenggilis, Bubutan, Krembangan, Rungkut, Tandes, Suko Manunggal, Pakal, Semampir, dan Asemrowo. Semuanya diserbu ludes oleh pembeli, rata-rata tak lebih dari 2 jam.

Kegiatan menyusul berlangsung di Benowo, Tambaksari, Sambilkerep serta kecamatan lain di Surabaya.

Kegiatan ini sangat dirasakan kehadirannya oleh masyarakat. Di Simomulyo, misalnya, warga langsung menyerbu Koling PAN, hingga sempat memacetkan jalan Banyuurip. “Kami menyebarkan selebaran ke warga sekitar, dan ternyata tanggapannya sangat bagus,” ujar aktifis PAN, Kasiyanto.

Apalagi, di kampung nelayan Sukolilo di tepi pantai Kenjeran. “Saat ini banyak nelayan yang tidak melaut, karena cuaca yang kurang bersahabat. Makanya banyak yang antri membeli sembako murah”, kata Ilham, panitia setempat.

Kegiatan yang bekerja sama dengan manajemen Aulia Farm, pimpinan Zainul Muslimin ini berjalan sampai akhir Maret 2008 ini. Namun, program ini direncanakan tetap dilanjutkan. “Sekarang kan masyarakat makin susah karena harga sembako naik terus. Kita ingin membantu dengan menggelar Koling PAN ini “ tambah Hendro Purnomo, Ketua PAN Wonokromo.

Kegiatan ini sekaligus dimanfaatkan oleh pengurus partai untuk konsolidasi. Di DPC Krembangan, contohnya, hampir semua aktifis berkumpul dan “rembugan” mengatur program-program ke depan. Sungguh luar biasa efek internal dan eksternal dari kegiatan Koling PAN. “Partai harusnya seperti ini, Dari pada cuma ngomong saja, lebih baik menggelar acara yang langsung bersentuhan dengan rakyat seperti ini, “ kata seorang warga setempat.

Melihat antusias masyarakat, Ketua Plt DPD PAN Surabaya, Sjamsul Huda, bertekad untuk melanjutkan program ini sampai kondisi harga sembako ‘normal’ dan terjangkau oleh daya beli masyarakat pada umumnya. (11sig35/03)