OPINI -Di masa hidupnya, Muchsinul Qomar, adalah lelaki biasa seperti layaknya orang kampung Surabaya. Dia bukan pejabat atau pengurus Muhammadiyah. Namun kecintaan dan pengabdiannya terhadap persyarikatan tak diragukan lagi. Tempat tinggalnya di kawasan Dupak, sebuah pemukiman padat penduduk, merupakan karya sosialnya terbesar yang tidak pernah di catat oleh sejarah.

Pak Muchsin, demikian akrab disapa, bukan penduduk asli setempat. Kegemarannya berolahraga dan membangun silaturahim dengan anak-anak muda merupakan kunci pembuka dalam mengubah warna kultur sosial masyarakat setempat yang jauh dari nilai-nilai moral dan Islam pada tahun 1980-an. Pria kelahiran Ponorogo ini tidak membeda-bedakan antara anak-anak pelajar maupun pengangguran.

Kata-katanya yang santun mnjadikan dirinya sebagai salah seorang tokoh masyarakat yang dihormati. Ucapan yang sering dikemukakan dalam setiap bertemu dengan anak-anak muda :“Kalian ini generasi muda yang menjadi harapan bangsa dan dambaan ummat”, mampu membangkitkan ghiroh mereka dalam membangun peradaban masyarakat yang lebih etis dan Islami.

Toh, Muchsin tidak tinggal diam. Kegelisahannya terhadap lingkungan menjadikan dirinya giat bekerja untuk masyarakat. Dia tahu persis tidak mudah berdakwah. Selain dililit kemiskinan serta merajalelanya rentenir, masyarakat demikian alergi terhadap Muhammadiyah, kendati persyarikatan memiliki amal usaha di gang sebelah. Demikian pula pandangan dan penilaian para penguasa kampung. Ormas yang didirikan KH Achmad Dahlan ini dianggap sekumpulan orang untuk berpolitik selain orang-orang eksklusif.

Melalui keahliannya sebagai penjahit, pengagum KH Mas Mansur ini membangun ekonomi masyarakat dalam kerangka berdakwah seraya mengajak masyarakat ber-Muhammadiyah. Sejumlah ibu-ibu rumah tangga dilatih menjahit. Menyadari bukan orang kaya, jatah jahitan yang digarapnya dibagi dalam beberapa kodi kemudian di distribusikan ke penduduk di sejumlah gang.

Kepeloporan ekonomi dalam menggerakkan persyarikatan tidak berhenti disitu. Sentra-sentra ekonomi di Dupak, seperti kerajinan tangan, warung nasi, pracangan dan pedagang kaki lima menjadi pilihan dakwah dan kaderisasi. Muchsin tahu persis, para penggerak ekonomi kecil tersebut tidak bisa berkembang dalam cengkeraman rentenir.

Bersama sejumlah warga muslim lainnya mendirikan Baitul maal. Konsep operasinya seperti yang sekarang kita kenal dalam system bank syariah, yakni bagi hasil. Melalui lembaga keuangan tersebut, sejumlah kredit disalurkan kepada pelaku ekonomi kecil tanpa agunan selain tabungan.

Selain pencerahan ekonomi, lembaga keuangan tersebut juga ikut mendanai berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Anak-anak yatim piatu dan dari keluarga miskin pun mendapatkan biaya pendidikan, sehingga mereka bisa meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Istri Muchsin pun tidak tinggal diam. Sebidang tanah miliknya diwaqafkan kepada Muhammadiyah untuk dijadikan pusat Dakwah. Saran itu tidak begitu saja di terima Muchsin. Alasannya, masyarakat masih banyak yang tidak suka kepada Muhammadiyah, khususnya para pengurus kampung.

Kepada anak-anak muda yang berguru kepadanya serta pengurus ranting maupun cabang Muhammadiyah setempat, Muchsin meminta pilihan antara mempertahankan nama Muhammadiyah sebagai lembaga penerima waqaf yang nantinya mengelola tanah ini dijadikan pusat dakwah atau ruh persyarikatan yang tetap mewarnai tata kehidupan masyarakat. Pilihan jatuh ke poin dua. Waqaf diserahkan ke Aisyiyah. Masyarakat pun tidak canggung berhimpun ke wadah organisasi kewanitaan itu.

Basis Kepeloporan
Kisah tersebut merupakan salah satu dari jutaan warga Muhammadiyah dalam berdakwah. Apa yang dilakukan oleh almarhum Muchsinul Qomar atau tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya tidak sekedar menggerakkan persyarikatan, melainkan menggairahkan kiprah organisasi massa Islam tertua dan terbesar di Indonesia kedalam relung-relung kehidupan masyarakat.

Muchsin atau tokoh-tokoh persyarikatan lainnya memang tidak meninggalkan fisik monumental. Bangunan sosial yang dilakukan dua puluh tahun lalu, kini tidak lekang oleh pergantian zaman maupun alih generasi. Bangunan tersebut ditumpukkan pada basis kepeloporan. Ini pula yang kini tampaknya menjadi persoalan tersendiri dalam menggerakkan dan manggairahkan persyarikatan.

Selain disebabkan melambatnya kaderisasi, fenomena yang harus mendapatkan perhatian adalah berkurangnya ghiroh kepeloporan, khususnya di bidang ekonomi. Kondisi ini tidak boleh berlarut atau dibiarkan mengikuti arus. Terlebih di saat masyarakat menderita di bidang sosial dan ekonomi.

Tidak fair bila disamakan antara para tokoh penggerak pada masa puluhan tahun lalu dengan era sekarang. Ruang dan waktu yang melatari memang berbeda. Tetapi yang harus diingat bahwa struktur sosial masyarakat. Substansi yang melilit masyarakat pada era 1970-an, 1980-an atau masa kini tetap sama, yakni persoalan ekonomi dan kesejahteraan.

Membangun basis kepeloporan tidak mengenal waktu maupun ruang. Juga tidak harus dlakukan oleh orang-orang kaya. Potret Muchsinul Qomar telah memberikan tauladan. Karena itu, menggerakkan basis kepeloporan bisa dimulai atau dilakukan melalui unit-unit terkecil persyarikatan, baik oleh individu maupun organisasi, seperti Pemuda Muhammadiyah, NA, majelis maupun ortom lainnya.

Dalam sejarahnya, pengabdian Muhammadiyah kepada masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan telah menjadi tulang punggung negara Indonesia. Masyarakat mengenal betul jati diri organisasi yang dikenal dengan gerakan tajdid. Selain memberi poin tersendiri, kondisi sosial tersebut stimulus yang baik dalam memulai membangun basis kepeloporan.

Melalui kepeloporan tidak diperlukan waktu panjang dalam membangun masyarakat, terlebih lagi mengubah kultur sosial budaya. Apalagi di pedesaan yang umumnya mata pencaharian masyarakat adalah bertani. Mereka membutuhkan kepeloporan dari kader-kader Muhammadiyah dalam memperbaiki taraf hidup dengan mengubah perilaku tanam maupun pengelolaan pasca panen.

Ibarat lokomotif menarik rangkaian gerbong, kepeloporan dari sang tokoh persyarikatan berimbas luas. Tidak akan lagi ditemui kemandegan organisasi di tingkat bawah karena masyarakat memperoleh manfaat yang secara tidak langsung terbangun sistim kaderisasi. Keimanan masyarakatpun terpayungi panji-panji Islam yang tidak eksklusif.

Apalagi belum membaiknya ekonomi negara yang dibarengi dengan pertambahan penduduk dewasa ini membutuhkan kepeloporan dalam mendobrak kebekuan tersebut. Dan, bagi Muhammadiyah tidak ada pilihan lain kecuali menjawab tantangan tersebut dengan gerakan tajdid sosial. Salah satunya memperkuat sentra-sentra ekonomi masyarakat.

Secara infrastruktur, Muhammadiyah telah lama memiliki pondasi. Bangunan dasar yang kokoh itu adalah lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal. Selanjutnya disusul kiprah lembaga ortom. Persoalannya, satu, sejauh mana nilai-nilai penguatan basis ekonomi memperoleh tempat terhormat di lembaga pendidikan menengah atas dan pendidikan tinggi di lingkungan Muhammadiyah. Artinya, para alumninya adalah generasi unggul yang mandiri dalam menggerakkan roda ekonomi kerakyatan, disamping sebagai aspirator pelaku ekonomi.

Kedua, peneguhan komitmen untuk turut serta memperbaiki taraf hidup rakyat oleh Angkatan Muda Muhammadiyah. Kerja nyata itu bisa diwujudkan dengan membangun proyek ekonomi produktif, membangun keahlian di bidang teknologi informasi guna mendukung produktifitas produk ekonomi dan membangun keunggulan manajemen produksi, pemasaran serta keuangan. Kerja nyata lainnya adalah pola pendampingan bagi petani dalam mengubah kultur produktifitas pertanian. Pendampingan serupa juga bisa dilakukan dalam meningkatkan kualitas dan produktifitas pelaku ekonomi mikro.

Ketiga, masjid selain sebagai fungsi ibadah dan pendidikan non-formal juga saatnya diaktifkan sebagai fungsi pasar. Masjid sebagai fungsi pasar hendaknya di revitalisasi sedemikian rupa karena memiliki sejumlah keunggulan komparatif dalam menggiatkan dan menguati perekonomian rakyat.

Kualitas keibadahan dan pendidikan non-formal yang berlangsung di masjid turut mendukung revitalisasi ekonomi masyarakat. Misal, dengan penguatan permodalan yang bersumber dari baitul maal, pelatihan manajemen bisnis maupun membuka dan memperluas jaringan pemasaran produk ekonomi. Fungsi pasar pada masjid juga memungkinkan terjadinya transformasi teknologi dan bisnis.

(Penulis, Ir Sjamsul Huda, Anggota Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim dan Anggota Komisi B DPRD Jatim)