OPINI -Pemberian tugas oleh partai adalah amanat atau kepercayaan. Itulah yang terjadi ketika rapat harian PAN Jatim memutuskan saya untuk menjadi caretaker PAN surabaya. Memang PAN Surabaya, yang semestinya bisa menjadi barometer PAN di daerah. Menurut Tim evaluasi DPW, PAN Surabaya dinilai masih lamban dalam konsolidasi dan kinerja belum maksimal, disusul dengan munculnya ketidak puasan di sebagian cabang, yang menghendaki adanya musdalub.

Ketika ditunjuk sebagai caretaker atau istilah AD-ART disebut Plt (pelaksana tugas) ada satu permintaan bila saya ditunjuk, yaitu tidak ada musdalub. Permintaan tersebut dipenuhi oleh forum rapat. Demikian pula dengan masa kerja, tadinya waktu Plt selama 2008-2010, namun saya hanya meminta waktu 4 bulan, mengingat saya juga punya tanggung jawab lain. Dan itupun dipenuhi sehingga masa kerjanya 16 Januari -14 mei 2008.

Seperti diketahui sebetulnya adanya Plt di berbagai partai pada umumnya, kalau sudah di Plt berarti sudah habis kepengurusan yang di Plt. Karena adanya Plt justru untuk mengganti kepengurusan yang ada, biasanya karena memang ada kemelut internal atau juga seringkali karena kepengurusan yang ada tidak mampu melakukan Musda (musyawarah daerah), padahal masa kepengurusannya sudah berakhir. Akhir-akhir ini kita bisa melihat banyak muncul Plt di partainya Gus Dur.

KONSOLIDASI
Berbekal pengalaman selama ini, saya mencoba mencari masukan sebanyak-banyaknya dari semua pihak internal dan eksternal partai. Pihak yang saling berbeda pandanganpun semua kita terima. Hasil dari penjaringan informasi tersebut menunjukkan, bahwa bila tidak ada strategi dan perencanaan yang matang, adanya disparitas kemampuan dan karakter SDM yang tinggi serta tidak diimbangi dengan kerja keras, maka akan sulit untuk melakukan konsolidasi partai. Belum lagi riak-riak kecil yang muncul sebagaimana sebuah partai.

Setelah mempelajari dengan seksama, salah satu krisis yang paling utama, adalah tidak adanya sebuah aktifitas partai yang dapat mengikat semua komponen dan menjadi motor penggerak partai. Sambil menyelesaikan atau tepatnya mendorong terselenggaranya musyawarah-musyawarah cabang, akhirnya kami mencoba memulai dengan menawarkan sebuah program yang lagi ngetrend sesuai dengan situasi harga-harga sembako yang melangit.

Sederhana saja konsepnya. Kalau selama ini orang umumnya membagikan sembako dengan cuma-cuma, atau menjual paket sembako murah. Kami tidak melakukan yang demikian. Yang kami lakukan menjual sembako dengan harga murah dalam sebuah mobil dan kami kelilingkan ke hampir setiap kecamatan. Hasilnya ternyata betul-betul diluar dugaan. Banyak manfaat yang kami peroleh. Selain dapat bertatap muka langsung dengan para pembeli yang rata-rata bisa menyedot 250 orang setiap kegiatan, yang merupakan momen sosialisasi. Juga kegiatan ini mampu mengonsolidasikan teman-teman yang ada di DPC dan aktifis sekitar lokasi kegiatan, disamping juga bisa menjadi alat promosi karena setiap minggu dimuat seperempat halaman di media cetak. Sementara teman-teman DPC menyatakan puas dengan adanya kegiatan koling (toko keliling) PAN ini.

Ternyata sedikit banyak dalam waktu relatif singkat, sekitar tiga bulan, acara jual sembako murah bisa menjadi suatu kegiatan yang bersifat holistik. Tinggal memoles dan kreatifitas dari masing-masing cabang untuk mempertajam kegiatan ini kedepan.

Diakui memang kegiatan diatas belum cukup untuk menyatakan bahwa sudah terjadi soliditas di tubuh PAN Surabaya. Tetapi minimal ini adalah langkah terobosan untuk mengejar waktu bersamaan dengan semakin dekatnya masa Pemilu 2009. Masih perlu kiat-kiat yang jitu lainnya untuk meraih suara yang lebih banyak.

PENCALEGAN DINI & SUARA TERBANYAK
Terus terang keputusan DPP PAN dengan mencanangkan suara terbanyak merupakan terobosan yang luar biasa bagi PAN. Dalam dua kali mengikuti Pemilu 1999 dan Pemilu 2004 memberi pelajaran. Bahwa dengan nomor urut, para caleg yang bekerja keras adalah caleg dengan nomor urut tertinggi. Hal ini kurang menguntungkan bagi PAN sebagai partai menengah. Sulit untuk mendobrak suara yang lebih banyak. Apalagi UU Pemilu yang baru ada pasal yang meniadakan sisa suara bagi DPR. Sisa suara akan di angkat ke tingkat propinsi. Pasal ini bisa menjadi pasal bunuh diri bagi PAN. Bila UU sebelumnya PAN diuntungkan dengan perolehan sisa suara, maka untuk pemilu 2009, PAN mempunyai harapan besar dengan sistem internal suara terbanyak.

Adanya sistem suara terbanyak mendorong PAN, memberlakukan proses pencalegan setahun sebelum pemilu. Saat ini DPD PAN Surabaya, sudah siap dengan sekitar 50 caleg atau 10 caleg per dapil dari 5 dapil yang ada di Surabaya.

Keuntungan pencalegan dini, sedikit mengurangi aroma kompetisi yang panas, setiap mendekati pemilu. Bahkan, seperti yang sedang berjalan di Surabaya. Para bacaleg se dapil bisa bertemu untuk membicarakan kesepakatan antar caleg se dapil. Mereka mengatur bagaimana setiap caleg akan bekerja maksimal di kecamatannya masing-masing. Tetapi mereka juga diperbolehkan mempunyai tim sukses di kecamatan lain, asal tidak melakukan kegiatan formal atau penggalangan massa kecuali atas izin dpc setempat. Terwujudnya kesepakatan yang tertuang dalam 7 point itu sangat melegakan bagi semua caleg dan mereka semua ikhlas siapapun yang mendapat suara terbanyaklah yang akan meraih kursi di legislatif.

Bila para caleg sudah siap bekerja dan mesin politik berjalan normal, waktupun sudah mengharuskan tugas sebagai Plt atau caretaker mengembalikan amanat ke DPW maka selesailah tugas. Target memperoleh 10 kursi semoga tercapai. Amien.

(Penulis, Ir Sjamsul Huda, anggota Komisi B DPRD Jatim dari FPAN).